Samson kalau ketemu Delay la (baca: Delaila) pasti akan berbunga-bunga hatinya. Tetapi buat penumpang pesawat kalau ketemu Delay la (maksudnya kena delay) pasti akan kesal.
Ini yang saya alami saat pergi hari ini. Saya berencana pergi ke Surabaya dengan menggunakan Mandala Air. Tiket sudah dibeli sekitar 3 minggu yang lalu sesuai dengan waktu dan harga yang saya pilih. Tetapi beberapa hari menjelang keberangkatan, saya di sms dari Mandala yang isinya: pesawat yang saya tumpangi rencana berangkat jam 18.45 diundur menjadi 20.30. Saya pikir masih wajar diundur sekitar 2 jam. Setelah konfirmasi ke call center nya dan dengan permohonan maaf dari petugasnya (semoga permohonan maaf yang tulus) saya pun masih tetap bisa memaklumi.
Pada hari keberangkatan saya berangkat dari rumah menyesuaikan dengan waktu, biar tidak terlambat. Sukurnya jalanan lancar sehingga saya bisa cepat sampai bandara.
Saya langsung menuju counter Mandala, langsung cek-in. Betapa terkejutnya (mungkin seperti tersambar petir) saat petugas loket mengatakan kalau penerbangan saya akan ditunda sampai dengan jam 22.30. (Tambahan lagi, ternyata pesawat diundur sampai dengan 22.50!). Padahal saat saya cek-in jam tangan saya baru menunjukkan jam 18.10. Yang benar saja.
Saat saya tanya kenapa? (Tanyaken apa…) Pak Petugas loket cuma bilang kalau pesawatnya memang terlambat datangnya dari Padang (apa hubungannya coba dari Padang, kan saya mau naik jurusan Jakarta-Surabaya). Akhirnya yo wis la. Saya mungkin (dan memang) naik darah. Tapi saya tahan. ‘Yang disamping saya’ kebetulan juga menghibur dengan mengatakan saya mungkin lagi lapar. Saya memang bisa cepat emosi kalau lagi lapar. Akhirnya saya dan ‘yang disamping saya’, makan dan coba menghabiskan waktu di restoran cepat saji punya nya Pak Kolonel (tahu kan maksud saya). Dan ternyata waktupun tidak habis-habis. Bayangkan saya harus melakukan sesuatu yang saya tidak tahu apa yang harus dilakukan selama 4 jam menunggu jadwal keberangkatan…
Perut sudah kenyang. Emosi sudah menurun. Tapi ternyata kekecewaan susah sekali berkurang. Mungkin seperti Samson yang menanti Delaila, apa daya yang datang Delay Lah (baca tertunda terus). Sama ekspresinya seperti saat group Band Samsons menyanyikan lagu Luluh. Atau seperti Bams (vokalis Samsons) saat pisah dengan Nia Rahmadhani (maaf ya, soalnya yang di sebelah saya lagi mengajak nge-gosip).
Tentang Mandala sendiri saya sebenarnya terkesan saat melakukan pemesanan secara online via internet. Tinggal pilih hari, pilih jam dan pilih harga yang diinginkan. Setelah finish tinggal catat kode booking dan tinggal datang ke counter Mandala terdekat untuk melakukan pembayaran dan tiket pun sudah di tangan. Informasi harganya pun akurat antara yang ada di internet dan saat dikonfirmasi di counter saat melakukan pembayaran.
Disamping itu saya terkesan dengan tekad barunya yang tercantum pada situs Mandala, Manajemen baru yang katanya lebih profesional. Dan yang paling menarik buat saya adalah penggunaan Airbus A-320-212 yang relatif baru dengan harga tiket yang termasuk murah.
Memang tekad baru untuk pelayanan pricing, booking, ticketing sudah terbukti bagus. Tapi untuk ketepatan waktu dan lainnya masih belum tahu saya harus bilang apa. Soalnya masih terkena delay… Delay la… Oh Delay la…. (versi dangdut nya: delay lagiii… ohh.. delay lagii… -dicuplik dari lagi ‘Mabuk lagi’).
Ini adalah Catatan Menumpang Mandala Air RI-278 yang diubah menjadi RI-278, 14 Oktober 2007.
No Comments Yet